KATA PENGANTAR
Alhamdulillah alrabbi
al‘alamin kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmatnya kepada
kami dan seijin-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah
ini.
Dan kami ucapkan terima
kasih kepada bapak guru dan teman-teman yang telah
memberikan saran dan bantuannya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas
pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)
untuk bahan diskusi, menjelang ujian
semester I tahun pelajaran 2014/2015
Kami mohon maaf apabila
dalam penyusunan makalah ini banyak sekali kekurangan- kekurangannya, dan kami
sangat berbesar hati dan berlapang dada sekali apabila Bapak/Ibu Guru,
teman-teman serta para pembaca untuk memberikan saran dan kritiknya.
Sekian terima kasih.
Padang, Oktober 2014
Penulis
Kelompok 7
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
1.2. Permasalahan
1.3. Tujuan
1.4. Metode
BAB II. PEMBAHASAN
2.1. Sejarah masuk Islam di Indonesia
2.2. Perkembangan Islam di Indonesia
2.3. fenomena islam di Indonesia pasca
merdeka
2.4. Peranan islam dalam membingkai
kehidupan berbangsa di Indonesia.
2.5. Gerakan-gerakan islam kontemporer
di Indonesia
BAB 111. PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran
BAB 1V. DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagaimana yang kita ketahui, masih banyak umat muslim, diantaranya kita
yang belum mengetahui secara jelas mengenai islam. Untuk itulah makalah ini
dibuat dengan tujuan untuk menambah pengetahuan kita mengenai agama islam.
Berupya menelaah dan mempelajarinya.
Makalah ini akan menjelaskan tentag Islam di Indonesia. Pembahsan ini akan
menjawab keraguan kita tentang kapn bermula isalam ada di Indonesia, siapa yang
membawanya, dan di daerah mana dari kepulauan Nusantara ini pertama kali
didatangi islam. Penulis juga akan memperkenalkan dengan peranan islam dal;am
membingkai kebudayaan dalam tatanan kehidupan berbangsa di Indonesia, serta
karakteristik kebudayaan yang di kehendakai islam sebagai agama rahmatan lil – alamin.
B.
Rumusan
Masalah
Makalah
ini akan membahas beberapa maslah, yaitu :
1. Bagimana sejarah awal
masuknya islam di Indonesia ?
2. Bagaimana fenomena
islam pasca merdeka ?
3. Apa saja peranan islam
dalam membingkai kehidupan berbangsa di Indonesia
4. Apa saja gerakan islam
kontemporer di Indonesia ?
C. Tujuan
Adapun
tujuan dari makalah ini adalah :
1. Untuk memenuhi tugas
kelompok mata kuliah Pendidikan Agama Islam
2. Untuk menambah
pengetahuan kita mengenai agama Islam
D. Metode
Dalam pembuatan makalah ini kami
mengungkapkan metode yang lazim di
gunakan adalah sebagai berikut:
1. Mencari data / informasi
2. Membaca atau mengamati sumber data /
informasi
3. Melakukan interpretasi atau mengartikan data
/ informasi
BAB II
PEMBAHASAN
A. SEJARAH RINGKAS MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA
Beberapa Pendapat Tentang Awal Masuknya Islam
di Indonesia.
Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:
1. Seminar masuknya islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar
adalah catatan perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M,
terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun
648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.
2. Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954),
diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang
selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China.
3. Dari Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di
dalamnya menjelaskan bahwa kaum Muslimin sudah ada di kawasan India, Indonesia,
dan Malaya antara tahun 606-699 M.
4. Prof. Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary Statemate on General
Theory of Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), di dalamnya
mengungkapkan bahwa kaum muslimin sudah ada di kepulauan Malaya-Indonesia pada
672 M.
5. Prof. Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysia mengungkapkan bahwa pada tahun
674 M. kaum Muslimin Arab telah masuk ke Malaya.
6. Prof. S. muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnay
berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa
beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah
ada hubungan dengan kaum muslimin Indonesia.
7. W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya
Compiled From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan
adanya Aarb muslim berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab
Muslim).
8. T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The
Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke
Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M).
Islam
Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:
1. Catatan perjalanan marcopolo, menyatakan bahwa ia menjumpai adanya
kerajaan Islam Ferlec (mungkin Peureulack) di aceh, pada tahun 1292 M.
2. K.F.H. van Langen, berdasarkan berita China telah menyebut adanya kerajaan
Pase (mungkin Pasai) di aceh pada 1298 M.
3. J.P. Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met Dergelijk Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam
masuk ke Indonesia pada abad
ke 13.
4. Beberapa sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan
Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan
saudah adanya beberapa kerajaaan islam di kawasan Indonesia.
Siapakah Pembawa Islam ke Indonesia?
Sebelum pengaruh islam masuk ke Indonesia, di kawasan ini sudah terdapat kontak-kontak dagang,
baik dari Arab, Persia, India dan China. Islam secara akomodatif, akulturasi, dan sinkretis merasuk
dan punya pengaruh di arab, Persia, India dan China. Melalui perdagangan itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia. Dengan demikian bangsa Arab, Persia, India dan china punya nadil
melancarkan perkembangan islam di kawasan Indonesia.
Gujarat (India)
Pedagang islam dari Gujarat, menyebarkan Islam dengan bukti-bukti antar
lain:
1. ukiran batu nisan gaya Gujarat.
2. Adat istiadat dan budaya India islam.
Persia
Para pedagang Persia menyebarkan Islam dengan
beberapa bukti antar lain:
1. Gelar “Syah” bagi raja-raja di Indonesia.
2. Pengaruh aliran “Wihdatul Wujud” (Syeh Siti Jenar).
3. Pengaruh madzab Syi’ah (Tabut Hasan dan Husen).
Arab
Para pedagang Arab banyak menetap di
pantai-pantai kepulauan Indonesia, dengan bukti antara
lain:
1. Menurut al Mas’udi pada tahun 916 telah berjumpa Komunitas Arab
dari Oman, Hidramaut, Basrah, dan Bahrein untuk menyebarkan islam di
lingkungannya, sekitar Sumatra, Jawa, dan Malaka.
2. munculnya nama “kampong Arab” dan tradisi Arab di lingkungan
masyarakat, yang banyak mengenalkan islam.
China
Para pedagang dan angkatan laut China (Ma
Huan, Laksamana Cheng Ho/Dampo awan),
mengenalkan islam di pantai dan pedalaman Jawa dan sumatera, dengan
bukti antar lain :
1. Gedung Batu di semarang (masjid gaya China).
2. Beberapa makam China muslim.
3. Beberapa wali yang dimungkinkan keturunan China.
Dari beberapa bangsa yang membawa Islam ke Indonesia pada umumnya menggunakan
pendekatan cultural, sehingga terjadi dialog budaya dan pergaulan social yang
penuh toleransi (Umar kayam:1989)
Proses Awal Penyebaran Islam di Indonesia
1. Perdagangan
dan Perkawinan
Dengan menunggu angina muson (6 bulan),
pedagang mengadakan perkawinan dengan penduduk asli. Dari perkawinan itulah
terjadi interaksi social yang menghantarkan Islam berkembang (masyarakat
Islam).
2. Pembentukan masyarakat Islam dari tingkat ‘bawah’ dari rakyat
lapisan bawah, kemudian berpengaruh ke kaum birokrat (J.C. Van Leur).
3. Gerakan Dakwah, melalui dua jalur yaitau:
a. Ulama keliling menyebarkan agama Islam (dengan pendekatan
Akulturasi dan Sinkretisasi/lambing-lambang budaya).
b. Pendidikan pesantren (ngasu ilmu/perigi/sumur), melalui
lembaga/sisitem pendidikan Pondok
Pesantren, Kyai sebagai pemimpin, dan santri sebagai murid.
Dari ketiga model perkembangan Islam itu,
secara relitas Islam sangat diminati dan cepat berkembang di Indonesia. Meskipun demikian, intensitas pemahaman dan aktualisasi
keberagman islam bervariasi menurut kemampuan masyarakat dalam mencernanya.
Ditemukan dalam sejarah, bahwa komunitas
pesantrean lebih intens keberagamannya, dan memiliki hubungan komunikasi
“ukhuwah” (persaudaraan/ikatan darah dan agama) yang kuat. Proses terjadinya
hubungan “ukhuwah” itu menunjukkan bahwa dunia pesantren memiliki komunikasi
dan kemudian menjadi tulang punggung dalam melawan colonial.
B. PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA
1. Babak Pertama, Abad 7 Masehi (Abad 1
Hijriah)
Pada abad 7 M, islam sudah sampai ke Nusantara. Para da’i yang datang ke Indonesia berasal dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni bangsa Gujarat dan ada juga yang beradaptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai arah yakni jalur sutera (jakur perdagangan) dakwah mulai merambah di pesisir-pesisir Nusantara.
Sampainya dakwah di Indonesia yakni melalui para pelaut dan pedagang yang membawa dagangannya dan juga membawa akhlak islami dan sekaligus memperkenalkan nilai-nilai yang islami.
Islam pertama-tama disebarkan di Nusantara, dari komunitas-komunitas Muslim yang berada di daerah-daerah pesisir yang terus berkembang sampai akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan Islam.
2. Babak Kedua, Abad 13 Masehi
Pada abad ini berdiri kerajaan-kerajaan Islam di berbagai penjuru Nusantara. Pada abad 13 Masehi ada fenomena yang disebut Wali Songo yaitu ulama-ulama yang menyebarkan dakwah di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Wali Songo mengembangkan dakwah atau melakukan proses Islamisasinya melalui berbagai cara dan saluran, antara lain:
a. Perdagangan
b. Pernikahan
c. Pendidikan (pesantren)
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang asli dari akar budaya Indonesia, dan juga adopsi dan adaptasi hasanah kebudayaan pra Islam yang tidak keluar dari nilai-nilai Islam yang dapat dimanfaatkan dalam penyebaran islam.
d. Seni dan Budaya
Wali Songo menggunakan wayang sebagai media dakwah dengan mewarnai wayang tersebut dengan nilai-nilai Islam. Para wali juga mengubah lagu-lagu tradisional dalam langgam islami. Dalam upacara-upacara adat juga diberikan nilai-nilai Islam.
e. Tasawuf
Ajaran tasawuf pada dasarnya mirip dengan ajaran Hindu, yaitu praktek Islam yang mengedepankan kehidupan yang sederhana dan banyak mendekatkan diri pada sang Khalik. Dengan ini, Islam dengan mudah dapat diterima karena memiliki keserupaan dengan alam pikiran penduduk pribumi yang sudah memiliki latar belakang agama nenek moyang mereka.
Pada abad 7 M, islam sudah sampai ke Nusantara. Para da’i yang datang ke Indonesia berasal dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni bangsa Gujarat dan ada juga yang beradaptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai arah yakni jalur sutera (jakur perdagangan) dakwah mulai merambah di pesisir-pesisir Nusantara.
Sampainya dakwah di Indonesia yakni melalui para pelaut dan pedagang yang membawa dagangannya dan juga membawa akhlak islami dan sekaligus memperkenalkan nilai-nilai yang islami.
Islam pertama-tama disebarkan di Nusantara, dari komunitas-komunitas Muslim yang berada di daerah-daerah pesisir yang terus berkembang sampai akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan Islam.
2. Babak Kedua, Abad 13 Masehi
Pada abad ini berdiri kerajaan-kerajaan Islam di berbagai penjuru Nusantara. Pada abad 13 Masehi ada fenomena yang disebut Wali Songo yaitu ulama-ulama yang menyebarkan dakwah di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Wali Songo mengembangkan dakwah atau melakukan proses Islamisasinya melalui berbagai cara dan saluran, antara lain:
a. Perdagangan
b. Pernikahan
c. Pendidikan (pesantren)
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang asli dari akar budaya Indonesia, dan juga adopsi dan adaptasi hasanah kebudayaan pra Islam yang tidak keluar dari nilai-nilai Islam yang dapat dimanfaatkan dalam penyebaran islam.
d. Seni dan Budaya
Wali Songo menggunakan wayang sebagai media dakwah dengan mewarnai wayang tersebut dengan nilai-nilai Islam. Para wali juga mengubah lagu-lagu tradisional dalam langgam islami. Dalam upacara-upacara adat juga diberikan nilai-nilai Islam.
e. Tasawuf
Ajaran tasawuf pada dasarnya mirip dengan ajaran Hindu, yaitu praktek Islam yang mengedepankan kehidupan yang sederhana dan banyak mendekatkan diri pada sang Khalik. Dengan ini, Islam dengan mudah dapat diterima karena memiliki keserupaan dengan alam pikiran penduduk pribumi yang sudah memiliki latar belakang agama nenek moyang mereka.
3. Babak Ketiga, Masa Penjajahan Belanda
Pada abad 17 Masehi tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda ke Indonesia dengan kamar dagangnya VOC, semenjak itu hampir seluruh wilayah Nusantara dijajah oleh Belanda kecuali Aceh. Saat itu antar kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.
Pada masa itu, ketika penjajahan datang, pesantren-pesantren diubah menjadi markas-markas perjuangan, santri-santri menjadi jundullah (pasukan Allah SWT) yang siap melawan penjajah sedangkan ulamanya menjadi panglima perangnya. Ulama-ulama menggelorakan jihad melawan Belanda.
4. Babak Keempat, Abad 20 Masehi
Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau politik balas budi yang sebenarnya hanya membawa manfaat bagi lapisan masyarakat yang dapat membantu mereka dalam pemerintahannya di Indonesia. Politik balas budi memberikan pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam tetapi sebsenarnya bertujuan untuk mensosialkan ilmu-ilmu Barat yang jauh dari Al Quran dan Hadits dan akan dijadikannya boneka-boneka penjajah. Selain itu juga mempersiapkan untuk lapisan birokrasi yang tidak mungkin dipegang lagi oleh orang-orang Belanda. Yang mendapat pendidikan tidak seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena itu pemimpin-pemimpin pergerakan adalah dari golonhan bangsawan. Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih bersifat organisasi formal daripada dengan senjata.
5. Babak Kelima, Pasca Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, perkembangan islam dengan sendirinya mengalami pergeseran. Dakwah Islam di Indonesia banyak dikembangkan oleh institusi-institusi seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Persis, dan lain-lain. Hingga sekarang dakwah Islam lebih banyak dimainkan oleh organisasi-organisasi Islam ini, terutama Muhammadiyah dan NU.
Pada masa ini juga berlangsung “pemurnian Islam” yang merupakan pengaruh dari perkembangan pemurnian Islam di Timur Tengah. Jadi pengertian Islamisasi pada ranah ini adalah usaha untuk “mengislamkan” orang Islam. Maksudnya membersihkan umat Islam dari unsur-unsur keyakinan lama yang tidak ada kaitannya dan bahkan dianggap bertentangan dengan ajaran Islam, berupa bid’ah, khufarat, dan tahayul.
Usaha Muhammadiyah untuk melakukan pemurnian agama sebagian mendapat tantangan dari NU. Ini disebabkan karena beberapa praktek NU, seperti tahlilan, talqin. Dan mengazani orang mati dianggap bid’ah (mengada-ada) oleh Muhammadiyah. Sampai sekarang perbedaan pendapat masih ada. Namun, sekarang ini masing-masing pihak sudah dapat menerima satu dengan yang lainnya.
Di era reformasi, kekuatan-kekuatan Islam yang baru bermunculan. Ini disebabkan karena beberapa hal:
1. Adanya kebebasan mengemukakan pendapat pendapat di muka umum.
2. Jalur pendidikan Islam di luar negeri, baik di Timur Tengah maupun negeri-negeri Barat.
3. Krisis ekonomi yang berdampak pada krisis-krisis lain baik dibidang sosial, pendidikan, maupun agama.
Perkembangan model-model pemahaman Islam tersebut dengan sendirinya menambah keragaman Islam di Indonesia. Tampaknya Islam yang dapat diterima di Indonesia sudah pasti adalah Islam yang dapat berdamai dengan Negara. Sejauh ini, Muhammadiyah dan NU tetap konsisten pada semangat ini.
Pada babak ini proses dakwah di Indonesia mempunyai ciri terjadinya globalisasi informasi dengan gerakan-gerakan Islam internasional secara efektif yang akan membangun kekuatan Islam lebih utuh meliputi segala dimensinya. Sebenarnya kalau saja Indonesia tidak terjajah maka proses dakwah di Indonesia akan berlangsung dengan damai karena bersifat kultural dan membangun kekuatan secara struktural. Hal ini karena awal masuknya Islam yg secara manusiawi, dapat membangun martabat masyarakat yang sebagian besar kaum sudra (kelompok struktur masyarakat terendah pada masa kerajaan) dan membangun ekonomi masyarakat.
Sejarah membuktikan bahwa kota-kota pelabuhan (pusat perdagangan) yang merupakan kota-kota yangg perekonomiannya berkembang baik adalah kota-kota muslim. Dengan kata lain Islam di Indonesia bila tidak terjadi penjajahan akan merupakan wilayah Islam yang terbesar dan terkuat. Walaupun demikian, Allah Subhanahu wa ta’ala mentakdirkan Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.
Pada abad 17 Masehi tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda ke Indonesia dengan kamar dagangnya VOC, semenjak itu hampir seluruh wilayah Nusantara dijajah oleh Belanda kecuali Aceh. Saat itu antar kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.
Pada masa itu, ketika penjajahan datang, pesantren-pesantren diubah menjadi markas-markas perjuangan, santri-santri menjadi jundullah (pasukan Allah SWT) yang siap melawan penjajah sedangkan ulamanya menjadi panglima perangnya. Ulama-ulama menggelorakan jihad melawan Belanda.
4. Babak Keempat, Abad 20 Masehi
Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau politik balas budi yang sebenarnya hanya membawa manfaat bagi lapisan masyarakat yang dapat membantu mereka dalam pemerintahannya di Indonesia. Politik balas budi memberikan pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam tetapi sebsenarnya bertujuan untuk mensosialkan ilmu-ilmu Barat yang jauh dari Al Quran dan Hadits dan akan dijadikannya boneka-boneka penjajah. Selain itu juga mempersiapkan untuk lapisan birokrasi yang tidak mungkin dipegang lagi oleh orang-orang Belanda. Yang mendapat pendidikan tidak seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena itu pemimpin-pemimpin pergerakan adalah dari golonhan bangsawan. Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih bersifat organisasi formal daripada dengan senjata.
5. Babak Kelima, Pasca Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, perkembangan islam dengan sendirinya mengalami pergeseran. Dakwah Islam di Indonesia banyak dikembangkan oleh institusi-institusi seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Persis, dan lain-lain. Hingga sekarang dakwah Islam lebih banyak dimainkan oleh organisasi-organisasi Islam ini, terutama Muhammadiyah dan NU.
Pada masa ini juga berlangsung “pemurnian Islam” yang merupakan pengaruh dari perkembangan pemurnian Islam di Timur Tengah. Jadi pengertian Islamisasi pada ranah ini adalah usaha untuk “mengislamkan” orang Islam. Maksudnya membersihkan umat Islam dari unsur-unsur keyakinan lama yang tidak ada kaitannya dan bahkan dianggap bertentangan dengan ajaran Islam, berupa bid’ah, khufarat, dan tahayul.
Usaha Muhammadiyah untuk melakukan pemurnian agama sebagian mendapat tantangan dari NU. Ini disebabkan karena beberapa praktek NU, seperti tahlilan, talqin. Dan mengazani orang mati dianggap bid’ah (mengada-ada) oleh Muhammadiyah. Sampai sekarang perbedaan pendapat masih ada. Namun, sekarang ini masing-masing pihak sudah dapat menerima satu dengan yang lainnya.
Di era reformasi, kekuatan-kekuatan Islam yang baru bermunculan. Ini disebabkan karena beberapa hal:
1. Adanya kebebasan mengemukakan pendapat pendapat di muka umum.
2. Jalur pendidikan Islam di luar negeri, baik di Timur Tengah maupun negeri-negeri Barat.
3. Krisis ekonomi yang berdampak pada krisis-krisis lain baik dibidang sosial, pendidikan, maupun agama.
Perkembangan model-model pemahaman Islam tersebut dengan sendirinya menambah keragaman Islam di Indonesia. Tampaknya Islam yang dapat diterima di Indonesia sudah pasti adalah Islam yang dapat berdamai dengan Negara. Sejauh ini, Muhammadiyah dan NU tetap konsisten pada semangat ini.
Pada babak ini proses dakwah di Indonesia mempunyai ciri terjadinya globalisasi informasi dengan gerakan-gerakan Islam internasional secara efektif yang akan membangun kekuatan Islam lebih utuh meliputi segala dimensinya. Sebenarnya kalau saja Indonesia tidak terjajah maka proses dakwah di Indonesia akan berlangsung dengan damai karena bersifat kultural dan membangun kekuatan secara struktural. Hal ini karena awal masuknya Islam yg secara manusiawi, dapat membangun martabat masyarakat yang sebagian besar kaum sudra (kelompok struktur masyarakat terendah pada masa kerajaan) dan membangun ekonomi masyarakat.
Sejarah membuktikan bahwa kota-kota pelabuhan (pusat perdagangan) yang merupakan kota-kota yangg perekonomiannya berkembang baik adalah kota-kota muslim. Dengan kata lain Islam di Indonesia bila tidak terjadi penjajahan akan merupakan wilayah Islam yang terbesar dan terkuat. Walaupun demikian, Allah Subhanahu wa ta’ala mentakdirkan Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.
C. FENOMENA ISLAM DI INDONESIA PASCA MERDEKA
Setelah merdeka pada paroh abad 20,
bangsa Indonesia mulai dihadapkan dengan persoalan besar. Derita akibat
penjajahan masih dirasakan oleh bangsa Indonesia. Sampai abad 21 ini, walaupun
dominasi militer terhadap bangsa ini telah hilang, namun dominasi ekonomi,
social, budaya dan lainnya masih mengacak – acak kehidupan bangsa. Sehingga,
jati diri bangsa betul – betul diuji. Padahal bangsa yang benar-benar merdeka
adalah bangsa yang merdeka lahir dan batin.
Dalam masalah budaya, jati diri kita
sebagai bangsa sedang menghadapi gelombang peradapan materialistic,
sekularistik, hedonistic, bahkan ateistik. Pengalaman pahit dimasa penjajahan
berabad-abad menyebabkan anak-anak bangsa ini sulit untuk bangkit percaya diri,
berdiri di atas kaki sendiri kemudian membangkitkan peradaban dan kebudayaan
yang bermartabat. Korupsi, manipulasi, mementingkan diri sendiri seolah-olah
sudah menjadi budaya bangsa ini.
1.
Perkembangan Islam pada masa kemerdekaan sampai oerde baru
Pada masa kemerdekaan,
tepatnya pada tanggal 3 januari 1946 didirikan departemen agama yang mengurusi
keperluan umat islam. Meskipun pada dasarnya departemen Agama ini mengurusin
keperluan umat beragama yang ada di Indonesia. Namun, melihat latar belakang
pendiriannya jelas untuk mengakomodasi kepentingan dan aspirasi umat islam
sebagai mayoritas penduduk negeri ini.
Usaha partai-partai islam
untuk menegakkan Islam sebagai ideology Negara dalam konstituante mengalami
jalan buntu. Partai-partai Islam itu melakukan penyesuaian terhadap kebijakan
Soekarno, tetapi secara keseluruhan peranan-peranan partai-partai Islam
mengalami kemerosotan. Tidak ada jabatan menteriberposisi penting yang
diserahkan kepada Islam sebagaimana yang terjadi pada masa demokrasi
parlementer. Satu-satunya kepentingan Islam yang diluluskan adalah keputusan
MPRS tahun 1960 yang memberlakukan pengajaran agama di Universitas dan
perguruan tinggi.
2.
Perkembangan Islam pada masa orde baru
Meskipun ummat islam merupakan 87%
penduduk Indonesia dalam kehidupan berbangsa ini, ide Negara Islam secara terus
menerus ditolak. Bahkan partai-partai Islam mulai dari masa penjajahan hingga
masa kemerdekaan selalu mengalami kekalahan kecuali diawal pergerakan nasional.
Bahkan sekarang dengan pembaharuan
politik partai-partai beridiologi islam pun lenyap.
Kegiatan Islam semakin berkembang pada
masa orde baru ini, diantaranya :
a.
Bangunan-bangunan baru islam (Masjid dan Mushalla)
b.
Pembangunan Madrasah, Pesantren dan juga Universitas Islam
c.
Adanya kegiatan bulan Ramadhan
d.
Aktivitas social keagamaan
e.
Puisitas islam, drama, dan pagelaran seni islam
3.
Perkembangan islam setelah reformasi
Tidak diketahui secara
persis apa yang dimaksud oleh sementara pihak yang melihat maraknya kehidupan
politik Islam dewasa ini sebagai suatu fenomena yang dapat diberi label
repolitisasi Islam. Meskipun demikian , kalau memiliki indicator utama yang
digunakan sebagai dasar penilaian itu adalah munculnya sejumlah partai politik
yang menggunakan symbol dan azaz islam atau yang mempunyai pendukung utama
komunitas islam. Maka tidak terlalu salah untuk mengatakan bahwa yang dimaksud
adalah fenomena munculnya kembali kekuatan politik Islam. Hal yang demikian itu
didalam perjalanannya selalu terbuka kemungkinan untuk “ memolitikkan”
Bagian-bagian yang mnjadi dasar ideology partai-partai tersebut.
Sekarang pada era
revormasi gejala demikian mungkin terulang kembali. Peran kelompok Islam, baik
tokoh Islam maupun mahasiswa Islam dalam mendorong gerakan reformasi sangat
besar. Namun, pada perkembangan selanjutnya, gerakan reformasi tidak selalu
berada dalam pengendalian kelompok islam.
Bagian problem tersebut
harus mampu diatasi oleh partai Islam pada era reformasi dewasa ini. Adanya
penggabungan secara menyeluruh mungkin tidak realistis, kecuali mungkin
diantara partai Islam yang berasal dari rumpun yang sama. Alternative lain yang
tersedia adalah koalisi, sehingga hanya ada beberapa partai islam saja yang
ikut dalam pemilu.
D. PERANAN ISLAM DALAM MEMBINGKAI KEHIDUPAN BERBANGSA DI INDONESIA
1.
Perbaikan Akhlak
Dekadensi moral yang
labil pada dasarnya merupakan cerminan dari budaya bangsa yang sedang sakit.
Langkah yang harus ditempuh adalah dengan cara melakukan upaya bersama-sama
dalam memperbaiki suasana mental. Pancasila yang kita jadikan sebagai ideologi
bangsa, tanpa adanya bantuan agama akan kekeringan nilai transendentalnya,
(Ma’arif, 1997:172). Moralitas pancasila akan hidup dengan menghidupkan
moralitas agama.
Ma’arif menulis, bahwa
agama harus dipahami secara substanstif agar pesannya dapat didaratkan secara
bermakna. Sikap agama yang artifisasi akan menolong keadaan bangsa yang kusut.
Sebuah agama yang telah kehilangan fungsi transendentalnya pada diri pemeluknya
tidak akan berdaya memberi keuatan moral kepada peradaban.
Tidak ada jalan lain
untuk membenahi kondisi bangsa ini selain membingkai dengan moralitas agama.
2.
Memberikan Pondasi Pendewasaan Kultural
Islam sebagai doktrin
adalah satu, namun, sebagai agama islam beragam. Bermacam-macam ekspresi
cultural muncul sebagai akibat yang logis dari lingkungan sejarah dan feografis
yang berbeda-beda.sejauh islam cultural tidak melanggar prinsip tauhid dan prinsip-prinsip dasar islam,
maka keberagaman tersebut dapat di terima sebagai bentuk penafsiran ke-Islaman
yang berjalan secara alamiah. Mereka yang menganggap islam sebagai system monolitik adalah keliru, karena mereka
buta untuk melihat kekayaan islam sebagai ajaran yang universal.
Namun, perbedaan paham
keagamaan akan menjadi tidak dapat ditolelir apabila perbedaan tersebut berada
pada tingkat prinsip-prinsip dasar islam.prinsip tersebut adalah prinsip yang
berhubungan dengan keimanan dan ke-Islaman. Misalnya keyakinan bahwa tidak ada
Tuhan selain Allah SWT, shalat lima kali dalam sehari semalam, pusa di bulan
Ramadhan, membayar zakat dan naik haji bagi yang mampu. Hal ini merupakan
ajaran dasar dalam islam sehingga tidak boleh ada perbedaan dalam pemahaman dan
keyakinan, karena telah diatur tegas oleh Allah serta rasul-Nya dan ini tidak
membutuhkan ijtihad.
Yusuf Qardawi menjelaskan
karakteristik muslim dan kebudayaan (Qadarwi, 2001: 35-34) :
a.
Rabbaniyah
Adalah kebudayaan yang
terpadu dengan aspek ketuhanan. Visi keimanan, khususnya tauhid menyatu dengan
seluruh sisi kebudayaan, mengalir didalamnya sebagaimana aliran darah dalam
pembuluh darah kapiler.
b.
Akhlaqiyah
Kebudayaan islam memiliki
dimensi dan tujuan moral yang tinggi. Akhlak dalam islam menempati posisi yang
snagat mulia dan berharga. Sehingga,salah satu misi kerasulan adalah
menyempurnakan akhlahk manusia.
c.
Insaniyah
Pada karakteristik ini
menekankan bahwa kebudayaan itu dapat dikatakan sebagai kebudayaan islam
apabila kebudayaan tersebutr menempatkan dan menjadikan manusia pada
kemuliaannya yang sesungguhnya.
d.
Al-‘Alamiyah
Adalah bahwa kebudayaan
islam itu bersifat universal. Walaupun kebudayaan itu bisa tampil dalam bentuk
yang beragam, namun nilai-nilai kebudayaannya sangat luas dan menjadi rahmat
bagi semesta alam.
e.
At-Tasamuh
Adanya sifat toleransi
diantara sifat universalitas. Dua hal yang diajarkan islam mengenai pentingnya
toleransi ini :
1.
Perbedaan umat manusia dalam agama dan lainnya terjadi atas kehendak Allah
(Hud: 118-119).
2.
Perhitungan atas kesesatan atau penyelewengan yang dilakukan umat manusia
diserahkan pada hukum Allah SWT, Allah yang akan menghakiminya, bukan nafsu
manusia (Asy-Syura : 15).
f.
Keberagaman
Keberagaman dalam rona
serta tampilan sebagai manivestasi apresiasi ketaatan kepada Allah dan
rasul-Nya selama perbedaan tersebut memiliki dasar ketaatan syari’iyyah kepada
Allah.
g.
Al-Wasathiyah
Adalah pertengahan.
Kebudayaan mempresentasikan jalan pertengahan dan keseimbangan yang tidak
ekstrim.
h.
At-Takamul
Yaitu saling menyempurnakan antara satu
bagian dengan bagian yang lain.
i.
Al-I’tizaz bi adz-Dzat
Adalah bangga dengan kepribadian dan
keistimewaannya, dengan sumber-sumbernya yang Rabbani, tujuan-tujuan kemanusiaannya, orientasi dan moralnya.
E.
GERAKAN-GERAKAN ISLAM KONTEMPORER DI
INDONESIA
Gerakan Islam di Indonesia tidak dapat dipungkiri
merupakan salah satu penggerak dari berbagai gerakan pewujud kemerdekaan
Indonesia. Ada gerakan
aktivis yang merujuk konsep yang berbendera Salafi, Hizbu Tahrir Indonesia (HT), Jama’ah tabligh (JT). Gerakan-gerakan ini memang
terinspirasi oleh gerakan serupa di luar negeri. Sementara gerakan lain ada
pula yang bersifat lokal. Mereka mengangkat label dan Islam Liberal.
Diakui atau tidak, ragam pergerakan ini memang
menawarkan solusi dan metode yang berbeda dalam menegakkan Islam. Ada yang
lebih mengambil aspek politis,ada yang cenderung ada yang melihat pada aspek spiritual, ada yang
memandang aspek pendidikan dan sebagainya. Tapi biasanya,
sifat fleksibel gerakan Islam yang bisa mengakomodasi
berbagai aspek itu yang lebih diterima di masyarakat.
berbagai aspek itu yang lebih diterima di masyarakat.
a.Salafi
Dakwah Salafi boleh dibilang sebagai pelopor gerakan-gerakan
pembaharuan yang muncul menjelang masa-masa kemunduran dan kebekuan pemikiran
di dunia islam. Dakwahnya menyuruh agar akidah islam dikembalikan kepada asalnya
yang murni. Sebagian orang menyebut dakwah ini dengan nama Wahhabi, karena
dinisbatkan pada masa pendiriannya: Muhammad bin Abdul Wahhab, dari Saudi.
Pusat gerakan
dakwah Salafi adalah para ulama. Pada dasarnya salafiyyun adalah orang-orang
yang senantiasa berjuang agar bisa meneladani para salafus-sholih, sehingga
poros gerakan salafiyah adalah para ulama. Kepada merekalah mengacu segala
bentuk perjuangan umat. Segala kasus yang mencuat dalam berbagai persoalan,di
konsultasikan kepada para ulama tersebut. Di Indonesia, Salafi pun mencoba
menyebarkan fikrahnya. Para ulama Salafi dari berbagai penjuru dunia sering
mengadakan pertemuan, khususnya pada musim haji di Mina. Segala permasalahan
umat Islam di dunia dibahas dalam pertemuan itu.
Gerakan Salafi dulu pernah mengkoordinasi
gerakan jihad untuk membela muslim Maluku. Mereka membuka posko-posko
pendaftaran laskar jihad ahlus sunnah wal jama’ah di sejumlah tempat. Karena
pemerintah tidak bisa diharapkan untuk melindungi umat Islam yang tertindas,
maka berdasarkan pertemuan para ulama Salafi, wajib ain bagi umat Islam untuk
melindungi saudaranya.
b. Hizbu
Tahrir Indonesia
Berbeda dengan
gerakan Islam lainnya, Hizbut Tahrir (HT) terang-terangan memproklamirkan
gerakannya sebagai partai politik Islam yang dakwahnya
berpijak di atas keharusan mengembalikan khilafah Islamiyah. Partai atau gerakan ini didirikan oleh Syaikh Taqiyuddin Nabhani pada 1952 di kawasan bergolak, Timur Tengah. Meski sementara kalangan menganggap aktivitas HT tergolong rahasia, namun menurut para aktivisnya yang ada di Indonesia, HT bukanlah organisasi rahasia. Di berbagai wilayah dakwahnya, HT beraktivitas dan berjuang secara terbuka untuk membina umat dan mengoreksi penguasa agar mereka mau menerapkan Islam.
berpijak di atas keharusan mengembalikan khilafah Islamiyah. Partai atau gerakan ini didirikan oleh Syaikh Taqiyuddin Nabhani pada 1952 di kawasan bergolak, Timur Tengah. Meski sementara kalangan menganggap aktivitas HT tergolong rahasia, namun menurut para aktivisnya yang ada di Indonesia, HT bukanlah organisasi rahasia. Di berbagai wilayah dakwahnya, HT beraktivitas dan berjuang secara terbuka untuk membina umat dan mengoreksi penguasa agar mereka mau menerapkan Islam.
Tokoh-tokoh HT
sulit dikenal, karena media massa sengaja tidak mau mempublikasikan aktivitas
dan para tokoh pimpinan HT. media massa bersikap seperti itu, disebabkan mengikuti
larangan pemerintah setempat untuk mempublikasikan HT.
HT lebih
menekankan aspek politik daripada aspek lainnya karena Islam itu sendiri
sebenarnya politik. Dalam arti, politik adalah ri’ayah syu’unil ummah, atau
pengaturan urusan kemaslahatan umat. Jadi bukan seperti terminologi yang
berkembang di masyarakat untuk merebut kekuasaan, menjegal lawan dan
sebagainya. Gerakan Hizbut Tahrir kini mempublikasikan wadah gerakannya di
Indonesia dengan nama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), memang tegas menekankan
sasaran dakwahnya adalah negara Islam dan khilafah Islam. Tapi langkah-langkah
perjuangan HT jauh dari aspek kekerasan. Untuk mewujudkan Khilafah
Islamiyah, HT melakukan beberapa
langkah. Pertama pembinaan pemikiran Islam yang disebut shira’ul fikri. Selain
itu, HT juga melakukan perjuangan politik untuk mengontrol pemerintah atas
kebijakan-kebijakan mereka. Kalau ini bisa berlangsung dengan baik, dalam arti
masyarakat telah memahami indahnya Islam, tahap selanjutnya adalah
pengambilalihan kekuasaan.
Meskipun lebih
menekankan aspek politik, tak berarti HT aktif dalam kancah pemilu. HT memang
tidak menjadikan pemilu sebagai sarana memperjuangkan Islam. Karena dalam
format demokrasi, pemilu menjadi sarana pemilihan wakil rakyat di legislatif
yang salah satu fungsinya memproduk undang-undang. Sementara dalam pandangan HT
yang berhak membuat undang-undang adalah Allah. Sehingga lembaga legislatif yang menjadi bagian
integral dalam proses demokrasi, secara syar’i tidak dibenarkan, karena
undang-undang adalah hak Allah. Selain
itu, HT juga menolak penggunaan kekerasan dalam mencapai tujuannya. Karena
sesuai dengan sistem perjuangan Rosulullah, penggunaan senjata itu baru
dilakukan setelah umat Islam memiliki sebuah institusi.
c. Jema’ah tablig
Jamaah Tabligh yang didirikan oleh
Syaikh Muhammad Ilyas Kandahlawi (1303-1364 H), di india, itu menekankan kepada
setiap pengikutnya agar meluangkan sebagian waktu untuk menyampaikan dan
menyebarkan dakwah. Di Indonesia gerakan ini cukup banyak digandrungi para pemuda.
Disejumlah kampus, aktivis gerakan Tabligh juga turut memunculkan fenomena baru
di kalangan mahasiswa. Ditengah hingar binger kehidupan dunia banyak pemuda
yang bergabung dalam gerakan ini, seperti memperoleh air ditengah dahag. Bahkan
mereka banyak berasal dari kalangan terpelajar, pegawai kantoran, juga kalangan
selebritis.
JT melakukan
politik nabi-nabi. Menurut JT, tidak ada satu nabi pun yang diutus Allah untuk
mengganti dia jadi raja. Tapi yang ada di masyarakat, bekerja di
masyarakat untuk mengajar iman dan takwa.
masyarakat untuk mengajar iman dan takwa.
Sadangkan secara politik, JT menyatakan setuuju kepada
khilafah Islamiyah, karena itu cita-cita setiap gerakan islam. Tapi itu baru
terwujud kalu umat islam sudah benar. Khilafah di zaman nabi itu datangnya
setelah umat islam benar. Kalu umat islam belum benar, takkan datang masa
seperti itu. Itu akan dengan sendirinya tegak.
d. Islam
Liberal
Islam liberal
adalah nama sebuah gerakan dan aliran pemikiran yang bermula dari sebuah ajang
kongkow-kongkow di Jalan Utan Kayu 69H, Jakarta Timur. Tempat ini sejak 1996
menjadi ajang pertemuan para seniman sastra, teater, musik, film, dan seni
rupa. Di tempat itu pula Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang salah satu
motor utamanya Ulil Abshar Abdalla berkantor. Bersama Goenawan Mohammad (mantan
pemimpin redaksi Tempo) serta sejumlah pemikir muda seperti Ahmad Sahal, Ihsan
Ali Fauzi, Hamid Basyaib dan Saiful Mujani, Ulil kerap menggelar diskusi
bertema ‘pembaruan’ pemikiran Islam. Setelah berdiskusi sekian lama pada akhir
1999 Ulil dan kawan-kawan sepakat memperkenalkan serta mengkampanyekan
pemikiran mereka dengan bendera Islam Liberal. Lalu untuk mengintensifkan
kampanyenya mereka membentuk wadah Islam Liberal pada Maret 2001.
Dengan ditunjang
kucuran dana dari Asia Foundation kampanye Islam liberal gencar dilancarkan
melalui berbagai cara. Mulai dari forum kajian dan diskusi, media cetak hingga
media elektronik. Media internet juga tak ketinggalan mereka garap. Mula-mula
dengan membuat forum diskusi internet (mailing list) kemudian dilanjutkan
dengan membuat situs web, alamatnya www.islamlib.com.
Kampanye lewat
media cetak dilakukan sangat gencar. Selain melalui majalah seperti Tempo dan
Gatra, islam liberal mendapat porsi
publikasi besar di koran Jawa Pos dan 40 koran daerah yang tergabung dalam Jawa
Pos-Net. Dengan nama rubrik Kajian Utan Kayu, setiap hari Ahad JIL mendapat
jatah satu halaman penuh untuk diisi tulisan para pengusung ide Islam liberal,
antara lain Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Jalaluddin Rakhmat dan Masdar F
Mas’udi.
Kampanye melalui
media elektronik mula-mula cuma disuarakan melalui kantor berita radio 68H yang
mengudarakan dialog interaktif setiap Kamis sore. Belakangan siaran itu kemudian
di-relay oleh tak kurang 15 stasiun radio se-Indonesia yang tergabung dalam
jaringan 68H, sehingga dapat disimak oleh para pendengar dari Aceh hingga
Manado. Di Jakarta siaran JIL di-relay oleh stasiun radio dangdut Muara FM.
Adapun istilah
Islam liberal dipilih oleh kalangan islam liberal untuk menamakan gerakan dan pemikiran
mereka, nampaknya lantaran mereka mendapat insipirasi dari buku Liberal Islam:
A Sourcebook karya Chares Kurzman (edisi bahasa Indonesia berjudul Wacana Islam
Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang isu-isu Global, diterbitkan oleh
Paramadina), sebab dari buku itu pula islam liberal meminjam enam agenda rumusan Charles
Kurzman. Enam isu itu: antiteokrasi, demokrasi, hak-hak perempuan, hak-hak
non-Muslim, kebebasan berpikir dan gagasan tentang kemajuan
Mengapa islam liberal begitu gencar
menyebarluaskan pemikirannya? Seperti diakui oleh para pentolannya, meski nama
Islam liberal baru dikenal belakangan ini, sebenarnya Islam liberal bukanlah
suatu pemikiran baru. Di Indonesia pemikiran Islam liberal telah dirintis oleh Santara lain Harun Nasution, Nurcholish
Madjid, Munawir Sjadzali dan Abdurrahman Wahid. Mereka adalah orang-orang yang
sejak tahun 1970-an dan 1980-an menggelindingkan ide ‘pembaruan Islam’, berupa
Islam rasional, dekonstruksi syariah dan sekulerisasi.
Namun, menurut
Ulil Abshar , para perintis itu gagal memasyarakatkan gagasan Islam liberal ke
masyarakat. Kegagalan itu antara lain karena tidak adanya pengorganisasian
secara sistematis. Atau, menurut Luthfi Assyaukanie, gerakan Islam liberal
sebelum ini terlalu elitis. Gagasan itu lebih banyak dibawa kalangan akademisi
dan peneliti yang tak mengakar ke masyarakat, sehingga opini publik tetap
dikuasai oleh kalangan Islam ‘konservatif’ yang memiliki jaringan kuat dan
mengakar ke masyarakat.
Karena itu,
kalangan JIL merasa perlu memiliki jaringan kuat agar pemikiran liberal bisa
berkompetisi dengan pemikiran kaum revivalis. Dengan kata lain, Islam liberal
adalah tandingan Islam revivalis.
Perbedaan Islam
liberal dan Islam revivalis, menurut Charles Kurzman didefinisikan sebagai,
Islam revivalis berusaha mengembalikan kemurnian Islam seperti di zaman
Rasulullah, tetapi tidak ramah dengan kehadiran modernitas. Sedangkan Islam
liberal, masih kata Kurzman, menghadirkan masa lalu Islam untuk kepentingan
modernitas.
Tapi lepas dari
perdebatan itu, menurut kalangan Islam liberal, dalam konteks Indonesia, kaum revivalis adalah
mereka yang mendukung penegakan syariat Islam oleh negara dan menolak
sekulerisme. Sebaliknya, kaum Islam liberal adalah mereka yang mendukung
sekulerisme dan menentang penegakan syariat Islam oleh negara.
Untuk menandingi
kalangan revivalis, kini Islam liberal telah menyusun sejumlah agenda, antara lain:
kampanye sekulerisasi seraya menolak konsep Islam kaffah (total) dan menolak
penegakan syariat Islam, menjauhkan konsep jihad dari makna perang, penerbitan
Al-Quran edisi kritis, mengkampanyekan feminisme dan kesetaraan gender serta
pluralisme. Menurut islam liberal, agama yang ‘kaffah’ hanya tepat untuk masyarakat
sederhana yang belum mengalami ‘sofistikasi’ kehidupan seperti zaman modern.
Jadi, menurut islam liberal beragama yang
sehat adalah beragama yang tidak kaffah.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Islam masuk ke Indonesia mulai dari abad
ke-7. Yang membawa agama Islam terdarpat dari banyak Negara seperti Gujarat,
Persia, Arab, Cina. Dimana prosese penyebarannya sendiri melalui banyak cara,
yaitu melalui pedagangan atau pun perkawinan, melalui da’wah dan masih banyak
lainnya.
Setelah kemerdekaan agama Islam teus berkembang hingga
saat ini. Sekarang pada era revormasi Peran kelompok Islam, baik tokoh Islam
maupun mahasiswa Islam dalam mendorong gerakan reformasi sangat besar. Namun,
pada perkembangan selanjutnya, gerakan reformasi tidak selalu berada dalam
pengendalian kelompok islam.
Bagian problem tersebut
harus mampu diatasi oleh partai Islam pada era reformasi dewasa ini. Adanya
penggabungan secara menyeluruh mungkin tidak realistis, kecuali mungkin
diantara partai Islam yang berasal dari rumpun yang sama. Alternative lain yang
tersedia adalah koalisi, sehingga hanya ada beberapa partai islam saja yang
ikut dalam pemilu.
Islam berperan penting
dalam membingkai kehidupan berbangsa di Indonesia, baik dalam perbaikan akhlak
mapun dalam pondasi pendewasaan cultural.
Sekarang ini bermunculan
gerakan-gerakan islam kontemporer di Indonesia, seperti gerakan Salafi, Hizbu
Tahrir Indonesia, Jema’ah Tabligh, dan Islam Liberal.
B. SARAN
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengaharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca, agar penulis dapat memperbaiki pembuatan makalah di waktu yang akan dating
DAFRAT PUSTAKA
Nasrul H.S, dkk.2011. Pendidikan Agama Islam Bernuansa Soft
Skills. Padang : UNP Press.
Abdillah, Masykuri, "Potret
Masyarakat Madani di Indonesia", dalam Seminar Nasional tentang
"Menatap Masa Depan Politik Islam di Indonesia", Jakarta:
International Institute of Islamic
Thought, Lembaga Studi Agama dan Filsafat UIN Jakarta,
10 Juni 2003
Ali Daud, Muhammad, Asas-Asas Hukum
Islam, Jakarta: Rajawali, 1991, Cet . ke-2
Antonio, Muhammad Syafi'I, Bank
Syari'ah: Dari Teori ke Praktek, Jakarta: Gema
Insani Press, 2001
Anwar, M. Syafi'i, Pemikiran dan Aksi Islam
Indonesia: Sebuah Kajian Politik tentang
Cendekiawan Muslim Orde Baru, Jakarta:
Paramadina, 1995
Azra, Azyumardi, Islam reformis:
Dinamika Intelektual dan Gerakan, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 1999







0 komentar:
Posting Komentar